Mendidik Anak Tanpa Teriakan

mendidik anak

Dear Parents, sudahkah anda mendidik anak dengan baik?

Banyak orang tua yang belum begitu memahami betul tentang cara mendidik anak dengan baik. Menganggap bahwa berteriak kepada anak merupakan hal yang biasa saja, “itu kan wajar kalau anaknya bandel..

Padahal sejatinya tidak ada anak yang bandel, anak-anak memang dipenuhi dengan rasa penasaran. Apa yang terjadi jika anak yang sedang penasaran dan ingin mengeksplorasi dunianya malah diteriaki?

Ya, anak akan merasa bahwa dia tidak diberi kesempatan, dan berakibat menurunkan rasa percaya dirinya. Tentu hal itu akan menimbulkan efek jangka panjang terhadap masa depan si anak itu sendiri.

Nah, berikut adalah kiat-kiatnya…

Cara Mendidik Anak Tanpa Teriakan

1. Mendidik Anak; Disiplin

Mendidik anak dengan disiplin bukan berarti kaku, bukan pula mengingatkan dengan nada yang keras supaya terdengar wibawa. Perlu juga orangtua membuat peraturan yang jelas, tidak perlu banyak-banyak cukup empat sampai lima aturan saja dan sebaiknya peraturan dalam bentuk kalimat lengkap.

Aturan ini perlu dijelaskan kepada anak, mintailah pendapat anak mengenai bagaimana penerapan peraturannya, supaya anak memahami peraturan tersebut.

Aturan ini juga perlu ditempel ditempat yang semua anggota keluarga dapat melihat, termasuk anak yang masih kecil. Mungkin mereka belum dapat membaca tapi setidaknya mereka dapat memahami maksud dari tulisan yang ditempel yaitu tentang peraturan.

2.Menyenangkan

Sebagai orangtua juga harus memiliki sisi yang menyenangkan, terutama dalam mendidik anak. Berilah penghargaan atau pujian ketika anak mengikuti peraturan yang telah disepakati, atau ketika anak melakukan prestasi sekecil apapun sebagai wujud apresiasi orangtua terhadap usaha yang dilakukan sang anak.

Sesekali penghargaan berupa hadiah juga boleh diberikan kepada anak setelah ia berusaha sebaik mungkin. Dengan catatan hadiah tidak dijanjikan di awal, hal ini dilakukan agar anak menaati peraturan ataupun melakukan sesuatu dengan sukarela bukannya karena ingin mendapat hadiah.

3.Pendampingan

Membantu anak, terutama dalam menerapkan  kedisiplinan butuh bimbingan dari orang tua. Contoh saja ketika anak ingin makan, untuk menerapkan cuci tangan sebelum makan maka orang tua juga harus mendampingi cuci tangan, tidak cukup hanya dengan menyuruhnya saja.

Sementara untuk anak kompulsif yang tidak suka diajari maka cukuplah memberi contoh saja. Karena anak kompulsif cenderung berkecil hati jika sesuatu yang bisa dia lakukan sendiri masih saja diberi bantuan.

Apa sih Bunda, aku kan bisa sendiri…” adalah ciri ucapan anak kompulsif.

4.Konsekuensi 

Penerapan sistem Reward and Punnishment yang benar juga akan efektif dalam mendidik anak. Supaya anak belajar disiplin, termotivasi untuk berbuat sesuatu tanpa adanya desakan, bentakan atau bahkan amarah dari orang tua.

Reward tidak selalu berbentuk hadiah. Senyuman, pujian, pelukan, ciuman dan menghabiskan waktu bersama secara khusus pun sudah termasuk reward.

Punnishment juga tidak selalu tentang hukuman yang keras. Mengambil hak anak, memberikan tugas yang tidak dikerjakan anak atau memberi waktu untuk anak berpikir sejenak mengenai kesalahannya merupakan contoh konsekuensi atau sanksi pada hal-hal yang ditinggalkan anak, daripada memukul atau berteriak-teriak.

Dengan demikian diharapkan rasa tanggung jawab anak muncul secara alami dan bukan karena takut dihukum.

5.Bertanya

Yang tak kalah penting dalam menerapkan kedisiplinan adalah keteladanan. Karena, perilaku anak adalah cerminan atas perilaku yang biasa dilihatnya sehari-hari dari orang tua.

Apa jadinya jika anak dilarang berteriak tapi dia malah terbiasa mendengar teriakan dari orang tuanya?

Oleh: Admin Yayasan Buah Hati Permataku 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *